Siap Menghadapi “New Normal”

New Normal 
Sumber: Bisnis Tempo.co

Indonesia akhir-akhir ini mulai identik dengan “New Normal”. Mantap. Apa tuh “New Normal”? Mungkin bisa diartikan kehidupan baru yang akan kita jalani berdampingan dengan pandemi Covid-19. Mungkin Covid-19 ini sudah menjadi sangat risih karena selalu diperbincangkan dimana-mana bahkan di dunia. Untuk kali ini, coba yuk, kita menggeser pemikiran kita tentang Covid-19 menjadi kehidupan baru yang akan kita jalani sebagai “New Normal” ini.

Kira-kira mulai dari awal Maret ya kalo ga salah, pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia. Semua kegiatan yang menimbulkan kerumuman ditutup. Tempat wisata di tutup. Mall di tutup. Dan mulai beraktivitas #dirumahaja. Sekolah di rumah aja. Kerja di rumah aja. Beribadah di rumah aja. Semua dilakukan untuk menghentikan penyebaran virus tersebut. Tapi gimana nih, udah 3 bulan berlalu dan virus tersebut masih menyebar di Indonesia. PSBB di Jakarta berakhir 4 Juni nanti. Kata Line Today, Mall siap buka mulai 5 Juni. Tapi virus tersebut masih menyebar.

Seperti yang kita semua udah tau, pandemi ini merugikan banget bagi Indonesia bahkan dunia. Mulai dari sektor kesehatan, ekonomi, pendidikan, sosial, dan lainnya yang membuat kita menjadi resah dan bahkan bisa sampai menimbulkan kematian. Tapi, coba kita lihat, hal positif apa yang bisa kita ambil selama hampir 3 bulan pandemi ini menjangkit di Indonesia?

1. Peka dengan Kebersihan

Pertama, dengan adanya pandemi ini pastinya kita jadi peka dengan kebersihan, cuci tangan yang rajin, mandi yang rajin, mungkin kita dulu gak seperhatian itu sama cuci tangan bahkan mandi, ya kan hayo ngaku. Karena pandemi ini kita jadi makin perhatian sama kebersihan kita. Kedua,

2. Pake Masker

Kedua, kita jadi pake masker whoy. Sebelum ada pandemi ini, aku kalo kemana-mana keluar rumah pasti selalu pake masker, karena jalanan tuh debu banget, dan pake masker bisa ngurangin debu itu masuk ke hidung. Terus dengan pandemi ini, kita sekarang diwajibkan untuk make masker kalo keluar rumah. Itu bagus. Selain untuk mengantisipasi virus itu, kita juga terjaga dari debu-debu dan bau jalanan, yang sebelumnya mungkin kita gak peka sama itu.

3. Peka Teknologi

Ketiga, peka teknologi. Sekarang udah 2020, dan pandemi ini berhasil membuat semua orang melek akan teknologi dengan kecanggihan ZOOM, Google Meet, Skype, dan lainnya. Makin pinter teknologi sekarang orang-orang. Itu bagus.

Apa saja sih kegiatan New Normal? Cek! https://bisnis.tempo.co/read/1352080/new-normal-jokowi-jelaskan-5-poin-persiapan-reaktivasi-kegiatan

Oke. Gimana kalo sekarang masalahnya bukan pada pandemi itu lagi. Tapi bagaimana kita bisa menjalani kehidupan baru yang berdampingan dengan virus tersebut. Bagaimana kita bisa tetap jaga kebersihan kita, cuci tangan sebelum megang sesuatu dan sesudah megang sesuatu, jaga jarak, kalo bisa hindari berkerumunan, kalo bersin atau batuk ditutup pake sapu tangan atau tisu, pake masker kalo ke luar rumah.

Pandemi itu masih ada, dan menyalahkannya adalah hal yang sia-sia. Lakukan aja yang menjadi bagian kita. Lakukan yang bisa kita lakukan untuk mecegah virus tersebut. Walaupun kita akan hidup beriringan dengan virus tersebut, itu tidak menghalangi kita untuk tetap melakukan apa yang menjadi bagian kehidupan kita (belajar, bekerja, beribadah). Kita harus tetap produktif, aktif, dan hidup akan terus berjalan dengan memperhatikan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Jadi, jangan dijadikan alasan virus tersebut membuat kita jadi rebahan terus ya. Kalo kita masih sehat dan masih bisa beraktivitas, yuk tetap produktif.  

Baca juga: Cara Berpikir Filosofi Stoicism Memandang Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *